Kejar Uang Hasil Korupsi Sampai Ke Luar Negeri, Urat Takut Jokowi Sudah Putus! - Info Berita Terkini (news & enterteinment)

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Your Ad Spot

Senin, 10 Desember 2018

Kejar Uang Hasil Korupsi Sampai Ke Luar Negeri, Urat Takut Jokowi Sudah Putus!



Kejar Uang Hasil Korupsi Sampai Ke Luar Negeri, Urat Takut Jokowi Sudah Putus!
Dulu, iya dulu, banyak kalangan meragukan si cungkring dari Solo itu, yang sudah pernah 2 kali jadi wali kota di kota kelahirannya, di mana dia pernah tumbuh di pinggiran sungai serta diusir berkali-kali. Iya, sip longa-plongo yang sudah mengubah wajah kota Solo menjadi menarik dan yang dipilih menjadi wali kota untuk kedua kalinya dengan perolehan suara di atas 90%.
Dia pernah dituduh sebagai boneka kepala Banteng, hanya karena dia tidak punya partai dan bukan keturunan ningrat darah merah jambu. Katanya kebijakan yang diambilnya disetir si anu dan si ini. Katanya menjadi presiden karena pencitraan masuk gorong-gorong dan tampak seolah-olah sederhana. Iya, dulu dikira hanyalah penakut.
Nyatanya dia membubarkan Petral, sesuatu yang tidak mampu dilakukan seorang presiden bertubuh tambun selama memerintah dua periode. Dia juga telah mengembalikan kekuasaan negara atas kekayaan alamnya dengan merebut kembali aset blok Rokan, Freepot, blok Mahakam, dan blok sanga-sanga.
Si kurus kering itu juga berhasil membangun jalan tol lebih Panjang dari pada para pendahulunya hanya dalam waktu 4 tahun. Bukan hanya itu, masih banyak lagi pembangunan mulai dari sekolah, jembatan, jembatan gantung, trans Papua, trans Kalimantan, trans Sumatera dan trans Jawa. Padahal badanya kurus loh, tetapi hampir semua pembangunan besar-besaran itu pernah dia kunjungi demi memastikan terlaksana dengan baik dan tidak ada yang mangkrak seperti Hambalang dan tol Bocimi.
Hanya dia presiden yang berani dan keras kepala agar harga BBM sama di seluruh Indonesia, pembagian sertifikat harus selesai 2021, dan elektrifikasi rampung pada 2019. Dia tidak mau tahu keluhan-keluhan macam-macam, selama ada niat target pasti akan tercapai, kira-kira seperti itulah yang mau ditanamkannya pada para pembantunya.
Yang dianggap cungkring, plonga-plongi, boneka, antek asing-aseng, dan lain sebagainya itu adalah Jokowi. Badannya mungkin kurus, bukan pemilik partai, bukan konglomerat, bukan keturunan ningrat, pun bukan anak aparat atau pejabat. Tetapi dia bukan penakut seperti si anu.
Ternyata bukan hanya saya sebut di atas saja prestasinya gaes. Setelah semua prestasi selama ini yang tak pernah dihargai kalangan sontoloyo dan genderuwo, dia kini mau mengejar uang korupsi sampai ke surge penyimpanan uang korupsi (katanya) seperti Swiss dan Singapura serta negara lainnya. Sepertinya si kurus ini tidak ada takut-takutnya. Dia berani mau obrak-abrik para pebisnis serakah. Diam-diam bekerja, tiba-tiba sudah dihasilkan kesepakatan dan penandatanganan mutual legal assignment (MLA).
*"Setelah melalui pembicaraan panjang, kita peroleh titik terang dan sekarang pada tahap akhir untuk menandatangani mutual legal assignment (MLA) antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Swiss. MLA ini legal paltform untuk mengejar uang hasil korupsi dan money laundering yang disembunyikan di luar negeri.”* (Jokowi, Detik Finance)
Seperti sudah saya duga bahwa proses penandatanganan MLA adalah proses Panjang. Tidak ada ujug-ujug penandatanganan tanpa ada perundingan, negosiasi, dan diskusi-diskusi yang sangat ketat. Apalagi kalau yang sedang dibahas itu adalah masalah kerja sama antara negara yang tidak ketat kerahasiaan perbankan dengan Swiss yang merupakan negeri surganya kerahasiaan keuangan.
Dengan adanya MLA tersebut Indonesia dapat meminta Swiss membantu menghadirkan saksi; meminta dokumen, rekaman, dan bukti; penanganan benda dan aset untuk tujuan penyitaan atau pengembalian aset; menyediakan informasi berkaitan dengan suatu tindak pidana; mencari keberadaan seseorang dan asetnya; mencari lokasi dan data diri seseorang serta asetnya, termasuk memeriksa situs internet yang berkaitan dengan orang tersebut. Selain itu, melacak, membekukan, menyita hasil dan alat yang digunakan dalam melakukan tindak pidana; meminta dokumen yang berkaitan dengan suatu tindak pidana; melakukan penahanan terhadap seseorang untuk diinterogasi dan konfrontasi (dengan saksi/alat bukti lain); memanggil saksi dan ahli untuk memberikan pernyataan; serta menyediakan bantuan lain sesuai perjanjian yang tidak berlawanan dengan hukum di negara yang diminta bantuan. (Hukumonline)
*"Korupsi adalah korupsi, tidak bisa diganti dengan nama lain. Di tengah upaya kita memberantas korupsi, upaya membangun cara kerja yang cepat, dan efisien adalah sebuah keharusan. Dunia menghadapi tantangan semakin kompleks, persaingan pun semakin ketat."* (Jokowi, Detik Finance)
Itulah sebabnya Jokowi mengatakan bahwa korupsi adalah korupsi. Apa pun alasannya korupsi harus diberantas. Tidak ada gunanya mengeluh di negara lain soal keadaan negara sendiri yang korupsinya sudah stadium empat tetapi tidak mau ikut ambil bagian dalam memberantas korupsi.
*"Gerakan ini harus jadi sebuah gerakan bangsa, gerakan kita bersama-sama. Baik yang dilakukan institusi negara, civil society, maupun masyarakat luas. Kita melihat layanan berbasis elektronik, seperti e-tilang, e-samsat, termasuk penggunaan e-procurement, e-budgeting, e-planning adalah upaya pencegahan korupsi.”* (Jokowi, Detik Finance)
Tak lupa Jokowi mengajak rakyat dan seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama berjuang memberantas korupsi dan terutama tidak melestarikan kebiasaan koruptif dalam hidup sehari-hari. Pemerintah sudah mewujudkannya dalam bentuk kebijakan publik yang sangat tepat untuk menjaga transparansi keuangan.
Kalau sudah seperti ini, mau dikatakan apa lagi Jokowi ini. Ke negara lain dia tidak gentar, mafia migas dibuat gigit jari, penghancur ideologi negara dibubarkan, aset negara direbut kembali, OPM dia perintahkan diselesaikan sampai tuntas, dan sekarang dia mau kejar uang hasil korupsi sampai ke luar negeri. Ini namanya bukan lagi pemberani, tetapi yang urat takutnya sudah putus.

seword.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot